Thursday, 23/11/2017 | 11:08 UTC+0

Yohanes Eka Chandra Menjabarkan Guru Sejati

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit pada malam Selasa Kliwon, dini hari, mulai memberikan wejangan kepada para murid-muridnya perihal guru sejati. Dupa berbentuk tumpeng atau gunung dikeluarkan. Api memancar dari sebuah korek. Harum wangi mistik mulai merangsang indera penciuman, kemudian diteruskan ke otak melalui syaraf. Gelombang otak yang semula alpha, kini perlahan beralih menuju ke beta, dan ankhirnya theta.

yohanes-eka-chandra-menjabarkan-guru-sejati

guru-sejati-yohanes-eka-chandra

guru-yohanes-eka-chandra

“Kiblat papat lima pancer, atau sering juga disebut sedulur papat lima pancer itu merupakan kunci untuk menguasai atau menemui guru sejati. Apakah yang di sini sudah pernah mengetahui atau mendengar tentang guru sejati?” tanya Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit.

 

“Belum Ki,” jawab muridnya serempak.

Murid-murid Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit bukanlah anak kemarin sore. Mereka merupakan orang-orang yang terdidik. Banyak dari mereka yang sedang menempuh pendidikan tinggi di universitas-universitas ternama. Tetapi, hanya rasionalitas sajalah yang mereka tempa, bukan rasa, jiwa, apalagi spiritualitas.

Dandanan parlente, tampak dari gaya pakaian yang dikenakan oleh para murid Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit. Kelihatannya mereka semua adalah orang yang berpunya, tetapi mereka masih merasakan ada yang kurang dalam kehidupan mereka. Dan rasa kurang itulah yang mengantarkan mereka berjumpa dengan Ki Yohanes.

Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit mulai membuka pembicaraan, “apakah kalian pernah mendengar kisah Bima Ruci atau Dewa Ruci?”.

Beberapa murid ada yang menjawab sudah, dan selebihnya menjawab belum.

“Dewa Ruci atau Bima Suci merupakan kisah di dalam pewayangan Jawa, dimana dikisahkan bahwa Bima, atau Werkudara, atau Bayu Putra, diperintahkan oleh gurunya Drona, untuk mencari Tirta Perwitasari.” Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit menambahkan, “Tirta Perwitasari merupakan sumber air pengetahuan, dimana bila kita dapat menemukan, menyelaminya, dan meminumnya, maka kita akan manunggal dengan Gusti, sang pencipta”.

“Tetapi tentu saja untuk mendapatkan Tirta Perwitasari tersebut tidaklah mudah. Bila dikembalikan lagi ke istilah sedulur papat lima pancer, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu siapakah yang dimaksud sedulur papat itu, dan apakah pancer itu,” terang Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit.

Rokok kretek mulai beliau nyalakan. Bara merah mulai membakar ujung rokok. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit meneruskan,” sedulur papat itu adalah, kawah, ari-ari, getih, dan pusar. Kawah dianggap sebagai kakak tertua, karena itu ia sering dipanggil sebagai kakang kawah, kemudian ari-ari sering disebut sebagai adhi ari-ari, yang berati adik. Kemudian getih dan pusar memiliki rentang waktu kelahiran yang relatif sama.”

“Sedangkan pancer itu ya kita ini, sebagai pusat dari semua saudara atau sedulur,” imbuh Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit.

Murid-murid beliau tidak tahan untuk ikut merokok. Mulut mereka terasa asam dan kecut bila tak menghisap rokok. Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit berkata,”untuk bertemu dengan para sedulur, kalian harus rajin meditasi. Tetapi bukan hanya asal meditasi.”

“Meditasi yang betul itu bila kalian bisa mencapai tingkatan gelombang otak delta. Dimana pada tingkatan tersebut, otak manusia bekerja seperti saat kita tidur. Itu adalah level gelombang otak terbaik untuk bertemu dengan para sedulur. Alangkah baiknya juga, dalam menjalankan meditasi, kalian juga berpuasa. Karena lapar juga membantu tubuh manusia untuk lebih fokus, sehingga kesadaran tetap terjaga. Nah, posisi itulah yang akan kita tuju. Yaitu posisi dimana kesadaran kita tetap terjaga, dan gelombang otak kita menyentuh level delta,” pungkas Ki Yohanes Eka Chandra Sambarlangit.