Sunday, 19/11/2017 | 7:42 UTC+0

Yohanes Eka Chandra Dan Kumpulan Syair Cinta

Yohanes Eka Chandra Middle East Literature

Dalam dunia perpuisian Indonesia hari ini, berbagai macam karya bertemakan cinta menjadi sebuah tema paling mayor dalam jagat kesusateraan hari ini. Dalam riwayat perpuisian Timur Tengah, tentu kita mengenal beberapa penyair yang menggunakan tema demikian. Diantaranya adalah Kahlil Gibran, Jalaluddin Rumi, hingga Nizar Qabbani. Begitupula dalam perpuisian Indonesia, akan banyak kita temu penyair yang banyak menulis puisi dengan tema cinta yang di antaranya adalah: Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Hasan Aspahani, dan sebagainya. Saat ini, jagat perpuisian Indonesia dikejutkan dengan hadirnya buku kumpulan puisi berjudul “Cinta dan Secangkir Kopi untuk Monica”. Kumpulan puisi karya Yohanes Eka Chandra ini berisikan sekitar 25 puisi yang bertemakan cinta. Pada beberapa bulan lalu, Yohanes Eka Chandra telah menerbitkan pula sebuah kumpulan puisi berjudul “Hujan di Tepi Sungai Nil”. Meski sebelumnya kumpulan puisi tersebut banyak mengisahkan tentang pengalaman pribadinya selama menjalani proses akademiknya di Mesir, bukan berarti membuatnya akan menelurkan karya yang serupa.

Yohanes Eka Chandra Middle East Literature

Kali ini, Yohanes Eka Chandra kembali mengisi peta perpuisian tanah air dengan karya terbarunya berjudul Cinta dan Secangkir Kopi untuk Monica. Kumpulan puisi ini tentu memiliki nafas syair yang berbeda dari sebelumnya. Jika kerinduan pada kampung halaman terdapat dalam kumpulan puisi sebelumnya, kini Cinta dan Secangkir Kopi untuk Monica berkisah tentang hubungan percintaan antara si penyair (Yohanes Eka Chandra) dengan seorang wanita yang diimpikannya. Monica dalam hal ini adalah seorang artis hollywood papan atas bernama Monica Belluci. Rasa cinta tersebut ia ungkapkan tak hanya sebatas perasaan saja, namun ia mampu menyulap kata-kata secara mendetail.

 

Lewat berbagai film yang ia tonton, Yohanes Eka Chandra mampu menginterpretasi sebuah gambar bergerak tersebut menjadi sebuah puisi. Seperti dalam salah satu puisinya yang berjudul Malena satu ini merupakan sebuah interpretasi film besutan sutradara Italia bernama Giuseppe Tornatore. Berikut puisi berjudul Malena tersebut.

 

MALENA

 

Dalam penantianku,

aku menunggu kabar darimu

seorang prajurit yang telah bersahabat pada maut

 

Namun, dalam penantianku

waktu adalah nasib yang telah

membuatku lapar dan dahaga

 

Kawanan burung menjelma bom atom

dan kematian adalah cara terbaik

untuk mengenangmu

 

Malena yang malang

Hanya duduk menunggu

dalam maut, dalam maut

yang datang secara tiba-tiba

 

Puisi yang diinterpretasi dari kisah seorang perempuan bernama Malena yang ditinggal perang oleh suaminya ini mengisahkan akan penantian panjang, janji, dan kesetiaan. Yohannes Eka Chandra mencoba menerjemahkan scene demi scene hingga akhirnya durasi panjang dalam film tersebut mampu dipotong dan dipadatkan dalam bentuk puisi.

 

Yohanes Eka Chandra mengingatkan saya kepada seorang penyair Hasan Aspahani yang banyak mengisahkan puisi demi puisi dengan cita rasa yang sangat elegan. Dalam hal ini, kumpulan puisi berjudul Cinta dan Secangkir Kopi untuk Monica memberikan daya tarik tersendiri bagi pembaca sastra khususnya penggila puisi hari ini yang melulu menciptakan puisi yang berkisah akan cinta yang empirik. Yohanes Eka Chandra sebaliknya, dimana cinta yang begitu jauh dan imajinatif menjadi daya tawar tersendiri. Barangkali, hadirnya kumpulan puisi berjudul Cinta dan Secangkir Kopi untuk Monica mampu memberikan tawaran lain bagi para pembaca sastra. Tabik!