Tuesday, 19/9/2017 | 11:47 UTC+0

Yohanes Chandra Ekajaya Bongkar Kata Padang

Yohanes Chandra Ekajaya Bongkar Kata Padang 2

Semua orang Indonesia pasti sangat mengenal kata padang. Biasanya mereka melihat kata padang disematkan bersama dengan rumah makan. Yohanes Chandra Ekajaya pun tidak menampik bahwa kepopuleran kata padang sangat ditunjang oleh kuliner khasnya. Tetapi sedikit orang yang mau dan mampu meneliti sebenarnya dari manakah kata padang itu berasal.

Yohanes Chandra Ekajaya Bongkar Kata Padang 1
Yohanes Chandra Ekajaya bersama Ki Sambarlangit kini sedang melakukan penelitian mandiri. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjawab asal usul kata padang yang berada di wilayah Sumatera Barat. Sebab kosa kata padang sendiri belum diketahui maknanya bagi orang atau penduduk yang bermukim di wilayah tersebut. Ini adalah satu hal yang membuat penasaran.

Ki Sambarlangit dan Yohanes Chandra Ekajaya sebenarnya sudah hampir tiba pada kesimpulan. Tetapi mereka tidak ingin secara gegabah menyimpulkan segala sesuatunya. Peneliti muda dan guru supranatural ini mengatakan bahwa kata padang bila dipadankan dalam Bahasa Jawa sangat dekat dengan kata padhang yang mempunyai arti terang.

Bila merujuk pada kisah-kisah lawas saat masa kolonial, sebenarnya asal mula kata padang sangat dekat dengan kisah pangeran Ontowiryo atau lebih dikenal sebagai pangeran Diponegoro. Menurut Ki Sambarlangit dan Yohanes Chandra Ekajaya, beliau dijuluki pangeran Diponegoro karena mempunyai aji-aji atau ilmu kanuragan yang disebut ajian dipo. Ajian ini sungguh sangat kuat dan hebat, karena tidak sembarang orang bisa mengusainya.

Yohanes Chandra Ekajaya Bongkar Kata Padang 2

Menurut Yohanes Chandra Ekajaya, di era atau masa tersebut yang menguasai ajian dipo ada dua orang, yaitu pangeran Ontowiryo dan muridnya, Senthot Prawirodirjo. Sayangnya pada masa kolonialisme Vereenigde Oostindische Compagnie si murid ini hatinya sempat tertawan oleh kecantikan seorang noni Belanda. Hingga ia pun terlena dan melupakan amanah gurunya.

Saat Senthot Prawirodirjo ingat akan perintah gurunya, pangeran Ontowiryo, maka ia segera berangkat ke tanah Sumatera. Menurut Yohanes Chandra Ekajaya ia diperintah oleh gurunya untuk menghentikan perang yang terjadi antara kelompok adat dan kelompok religius impor asing. Karena saat itu kondisinya sungguh gawat, maka ia terpaksa mengeluarkan ajian dipo yang membuat seluruh wilayah tersebut sangat terang, bahkan pada malam hari.