Thursday, 27/7/2017 | 6:53 UTC+0

Novel Ken Dedes Karya Pramoedya Ananta Toer jadi Salah Satu Buku Favorit Saya!

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Sejarawan Bonnie Triyana menceritakan bahwa ia tidak bisa mendapatkan cukup dari sejarah Indonesia. Menurutnya, buku fiksi harus memiliki konteks sejarah atau latar belakang yang memadu di dalamnya.

Ia mengaku bahwa “Saya suka membaca buku-buku sejarah non-fiksi tapi aku juga suka novel fiksi yang memiliki latar belakang dan tema tentang sejarah,” ujar Bonnie pada Gegap Pembaruan dalam sebuah wawancara baru-baru ini.

Beberapa novel fiksi favoritnya adalah Arus Balik yang dituliskan oleh Pramoedya Ananta Toer dan Para Priyayi karya Umar Kayam. Mengenai buku-buku fiksi ini, Bonnie mengatakan, memiliki relevansi abadi untuk masyarakat Indonesia kontemporer.

“Dari karya-karya fiksi, menarik, kita bisa belajar dan memahami tentang realitas kehidupan sehari-hari.”

Bonnie, yang membantu Kabupaten Lebak di Banten mendirikan Museum Multatuli, mengatakan bahwa sebagian besar buku yang dia baca terfokus pada gerakan kiri di Indonesia karena ini telah menjadi topik yang menarik bagi dirinya. Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel karya Mas Marco Kartodikromo juga merupakan buku yang sangat luar biasa bagi Bonnie.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Pergaulan Orang Buangan di Boven Digul

Ini adalah semacam buku harian dari Marco selama masa pengasingannya di Boven Digoel bersama dengan aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia lainnya. Di sini, Marco menunjukkan karakteristik yang berbeda dari orang-orang yang mengalami tekanan. Dia menunjukkan bagaimana orang bisa sangat oportunis ketika diletakkan di bawah tekanan dan ia juga menjelaskan bagaimana gagasan kemerdekaan sering tidak diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia lainnya dan bahkan bertemu dengan sinisme.

An Age in Motion

An Age in Motion merupakan buku sejarah non-fiksi yang saat ini telah dibaca oleh Bonnie karena ia tengah melakukan penelitian tentang Sarekat Islam (SI) dan Henk Sneevliet seorang komunis Belanda yang memicu gerakan kebebasan di kalangan pra-kemerdekaan kelas pekerja Indonesia. Buku tersebut menawarkan banyak perspektif mengenai perjuangan bagi gerakan kemerdekaan di pra-kemerdekaan Indonesia. Gerakan ini memiliki banyak kesamaan dengan masyarakat dan politik Indonesia hari ini. Ini benar-benar membantu saya untuk memahami fondasi dasar Indonesia sebagai negara bangsa. Ini adalah salah satu buku favorit saya dan menjadi teman di mana-mana saya pergi.

Boeron Dari Digoel

Buku karya Wiranta ini merupakan sebuah buku tentang Digoel yang dikemas dengan gaya fiksi. Saya membaca buku ini dengan membutuhkan waktu yang sangat lama. Saya tidak berpikir bahwa buku tersebut ternyata telah dicetak ulang lagi.Buku ini bercerita tentang orang-orang yang mencoba melarikan diri dari Digoel, dimana mereka hanya ingin pergi dalam lingkaran. Mereka bahkan mencoba untuk berenang ke Australia tetapi mereka tidak pernah bisa lepas dari pulau tersebut.

Arok Dedes

Pramoedya Ananta Toer telah menciptakan sebuah novel tersebut. Di sini, Pramoedya Ananta Toer menceritakan Ken Arok dari perspektif yang berbeda dan lain dari ini, ia juga menunjukkan bagaimana kekuasaan terpusat dan diperjuangkan di tanah Jawa. Pramoedya Ananta Toer menceritakan dalam novel tersebut dengan sangat detil dan menarik.

Penulis: Yohanes Chandra Ekajaya

Editor : Yohanes Chandra Ekajaya

Baca tulisan menarik Yohanes Chandra Ekajaya lainnya di link berikut yang Berjudul Tinta Emas Sang Sastrawan