Tuesday, 25/7/2017 | 6:51 UTC+0

Modal Bukan Penghambat Untuk Mulai Berbisnis

modal

Sudah menjadi alasan umum apabila sebuah modal selalu menjadi kendala bagi seorang calon pengusaha untuk menghasilkan sebuah produk. Akan tetapi kondisi seperti itu tidak menyurutkan tekad Fuad untuk mendirikan bisnis konveksi dan produk fesyen outdoor bernama Mountain Legend, pada 2010 lalu. Meskipun tanpa mengeluarkan banyak modal untuk memulai usaha, ia mampu mendapatkan hasil yang maksimal. “Satu-satunya modal saya untuk menjalankan usaha ini hanyalah keberanian,” kata Fuad.

Mountain Legend menjual dan memproduksi aksesoris naik gunung, seperti jaket, tas, jas hujan, kaos, celana, topi hingga dompet. Banyak pula brand besar yang menggunakan jasa penjualan dari dia. Sebelumnya, Fuad hanyalah buruh di sebuah pabrik tekstil. Saat itu dia pernah terlilit hutang, ketika bekerjasama dengan seorang pemodal dalam menjalankan bisnis kredit. “Dulu waktu kerja di pabrik itu saya juga usaha kredit seperti handphone dan yang lainnya. Tapi yang kreditnya itu banyak yang enggak bayar-bayar. Saya harus ganti rugi, tiap dapat gaji per bulan dipotong,” kenang dia.

modal

Selama satu setengah tahun akhirnya Fuad bisa melunasi semua hutangnya itu. Dia pernah berjanji pada dirinya sendiri, jika seluruh hutangnya tuntas maka akan keluar dari tempatnya berkerja. Hanya Rp600 ribu, gaji terakhir yang dia terima dari tempatnya bekerja. Sementara, sebagai tulang punggung keluarga Fuad harus membiayai tiga orang adiknya yang kala itu masih sekolah. Modal keberanian, dia nekat membuat brosur membuka jasa konveksi. Padahal saat itu dia tak memiliki satu pun peralatan dan keahlian menjahit. Beruntung, Fuad memiliki kenalan pengusaha konveksi dan juga sekaligus pengusaha fashion dengan brand You and Me Chandra Ekajaya. Semua pesanan pelanggan dia alihkan kepada rekannya itu.

modal

Namun Fuad tak hanya sebagai perantara. Dia merasa perlu mempelajari seluk-beluk proses produksi, dari mulai hunting bahan, pemotongan hingga menjadi produk laik jual. “Dari situ saya mulai menyisihkan sedikit-sedikit dari keuntungan untuk mendirikan konveksi sendiri. Dan Alhamdulillah ada beberapa brand besar yang mengajak kerjasama,” tuturnya.

Berbekal pengalaman memproduksi produk fesyen outdoor milik brand terkenal, akhirnya dia coba-coba membuat merek sendiri. Yang pertama, dia membuat jas hujan multi fungsi. Kendati jas hujan, namun dari segi desain dibuat yang lebih fashionable agar bisa dipakai untuk sehari-hari. Soal bahan, dia juga tak ingin memakai yang asal-asalan. Dibantu 25 pekerja, dia mengaku, kini bisa meraup omset hingga Rp 300 juta per bulan karena bantuan dari Chandra Ekajaya.