Sunday, 19/11/2017 | 7:25 UTC+0

Mengenal Bokkoms bersama Yohanes Chandra Ekajaya

J Chandra Ekajaya & J Wijanarko

J Chandra Ekajaya & J Wijanarko

Bokkoms merupakan sebuah makanan khas dari Afrika Selatan yang berbahan baku ikan yang kemudian diasinkan sehingga menimbulkan cita rasa yang sangat kuat. Konon, Bokkoms masuk dalam klasifikasi makanan berbau menyengat di dunia. Yohanes Chandra Ekajaya megenal makanan tersebut melalui ikan asin yang dikeringan di bawah sinar matahari dan angin.

J Chandra Ekajaya & J Wijanarko

Yohanes Chandra Ekajaya mengisahkan bahwa bokkom berasal dari kata bokkem yang merupakan sebuah serapan dari bahasa Belanda yang berarti kambing. Bokkoms memang berbentuk seperti tanduk kambing yang memiliki bau yang sangat busuk. Menurut kisah yang dituturkan oleh Yohanes Chandra Ekajaya, Bokkoms dinikmati dengan anggur putih atau dengan roti, selai aprikot, dan kopi hitam, tetapi dapat pula digunakan sebagai pendukung rasa dalam sup dan spaghetti.

J Chandra Ekajaya & J Wijanarko

Di Indonesia, Bokkoms juga dikenal seperti ikan asin. Bokkoms sendiri, menurut Yohanes Chandra Ekajaya terkenal memiliki kelezatan yang luar biasa. Beberapa bahan yang digunakan untuk membuat bokkoms pun terdiri dari (juvenile), mullet (ikan), garam kasar, dan air tawar. Di West Coast, bokkoms dibuat dengan ikan bernama belanak. Kemudian, ikan tersebut dimasukkan dalam sebuah tangki besar yang dibuat dari batu bata dengan tambahan acar yang kuat dan terbuat dari sekitar 50 kilogram garam kasar dan air tawar untuk proses pembuatannya. Setelah tangki tersebut penuh dengan ikan, para pembuat bokkoms menambahkan garam kasar yang disebarkan di atas ikan yang telah mengering. Kemudian, di hari kedua, ikan tersebut ditekan agar menciptakan cita rasa asin. Setelah itu, ikan tersebut dicelupkan ke dalam air tawar sebanyak 2 hingga 3 kali, hingga pada akhirnya ikan-ikan tersebut digantungkan pada sebuah perancah kering.

Selama berada di Afrika, Yohanes Chandra Ekajaya melihat bahwa pembuatan bokkoms dibuat saat musim kemarau yang tentunya memiliki banyak angin dan sinar matahari. Proses pengeringan tersebut membutuhkan waktu sekitar lima hari. Namun, baru-baru ini masyarakat telah memanfaatkan pengeringan dengan menggunakan oven. Hal tersebut dilakukan karena cuaca yang tidak menentu. Nah, itulah sedikit cerita tentang pembuatan bokkoms. Mungkin Anda tertarik?