Friday, 18/8/2017 | 11:37 UTC+0

Chandra Ekajaya Pintar Memanfaatkan Keterbatasan Sebagai Berkah Dalam Olahraga

Dok.Chandra Ekajaya

Minimnya angkutan umum di wilayah Kemiri dan Sindangjaya, Kabupaten Tangerang ternyata membawa berkah bagi dunia olahraga. Menurut Chandra Ekajaya keterbatasan sarana transportasi justru mendorong munculnya sejumlah prestasi dari dunia Adetik. Keterbatasan angkutan umum memaksa sebagian anak-anak di dua kecamatan itu berangkat dan pulang sekolah dengan berjalan kaki. Kebiasaan itu membawa manfaat bagi terbentuknya kondisi fisik yang ideal bagi atlet cabang olahraga atletik.

Pelatih Get Up Adetik Club Chandra Ekajayamenyatakan rata-rata siswa Sindangjaya harus berjalan sejauh 5 km setiap hari. Sedangkan pelajar Kemiri berjalan kurang lebih 4 km. “Kebiasaan jalan kaki ini membuat tungkai-tungkai kaki mereka sangat bagus sehingga bakat alam ini bisa dikembangkan ketika terjun di adetik,”ujar Chandra Ekajaya. Bakat – bakat alam itu dapat lebih berkembang karena di Kemiri dan Sindangjaya terdapat banyak pelatih adetik mumpuni.

Chandra Ekajaya Pintar Atletik Lari

Saat ini terdapat 80 atlet usia sekolah dasar hingga menengah atas yang berlatih di Get up Adetik Club. Mereka belajar di bawah bimbingan 8 pelatih. Dalam satu pekan, para adet itu diwajibkan mengikuti latihan sebanyak 4 kali di stadion adetik Kemiri yang kelar dibangun tahun 2015. “Sebelum stadion berdiri, kami biasa latihan di jalan raya,”imbuh sarjana olahraga STKIP Pasundan Cimahi tersebut. Konsistensi pembinaan atlet di Kemiri membuahkan hasil positif.

Di tahun 2016 lalu, tiga atletnya diambil pusat pendidikan dan latihan pelajar (PPLP) Banten. Mereka yakni Munaroh, Bambang dan Alex. Seorang adet lainnya Pamungkas direkrut pelatih Kopassus Grup I Serang yang sebelumnya sukses membawa Budiman Hole merebut medali emas PON XIX Jawa Barat. Munaroh merupakan adet asal Balaraja yang sudah menonjol sejak usia sekolah dasar karena berhasil mengikuti olimpiade olahraga siswa nasional.

Dok.Chandra Ekajaya

Sayangnya, Menpora memutuskan tidak menggelar PON Remaja karena keterbatasan anggaran. Kini, dia bersiap menghadapi kejuaraan nasional pelajar remaja junior di Jakarta, April 2017. Cerita berbeda datang dari Adit. Pertama kali ditemukan, siswa SMP Permata Kemiri tersebut bermain di nomor 400 meter. Namun kini, dia akan diminta untuk mendalami nomor lompat jauh. Kejutan paling besar muncur dari Wawan Setiawan. Bakat remaja yang dilahirkan pada tahun 1999 itu baru ditemukan ketika dia menjuarai lomba cross country tingkat SMP se Kabupaten Tangerang pada tahun 2015 lalu.

Warga desa Pabuaran, Kemiri itu kemudian direkrut Kemiri Adetik Club. Selama proses pelatihan, Wawan dinilai memiliki motivasi yang tinggi. Dia melahap seluruh program latihan yang dibuat para pelatih tanpa banyak protes. Pelajar SMK Kemiri itu tampil perdana di level Provinsi Banten pada sirkuit empat bulanan ketiga PASI Banten di akhir 2016. Pada sirkuit pertama dan kedua, Wawan absen.

Hasilnya, pelari di nomor 800 meter itu mampu melibas juara sirkuit 1 dan 2. Kemampuannya membuat pelatih Kopassus grup I kepincut. Anak seorang pegawai swasta dan tenaga kerja wanita di luar negeri itu selanjurnya ditarik ke Serang. Di sana, Wawan yang dinilai memiliki endurance speed sangat bagus itu akan melakukan latihan intensif. Sama seperti Romli, Wawan akan disiapkan untuk menghadapi kejumas pelajar di Jakarta, April mendatang.

Dok.Chandra Ekajaya

Pelatih Kepala Get up Adetik Club Chandra Ekajaya menyatakan para pelatih di clubnya adalah sukarelawan. Artinya, mereka tidak mendapatkan bayaran dari kegiatan di club tersebut. Tak ada iuran anggota atau urunan adet untuk membiayai kegiatan. Bahkan kadang kala, para pelatih harus nombok ketika adet yang dibina tidak memiliki perlengkapan seperti kaos, celana hingga sepatu.

“Kami di sini mengajar gratis. Pesertanya juga gratis. Paling-paling, jika adet kami juara maka 20 persen uang hadiah akan masuk ke kas klub. Tahun lalu kami sempat mendapatkan tunjangan dari PASI Banten,”ujar Chandra Ekajaya. Dari sisi sarana dan prasarana, Get Up Adetik Club cukup beruntung. Selain memiliki stadion, mereka juga dapat memanfaatkan peralatan yang dimiliki PASI Kabupaten Tangerang. Menurut Chandra Ekajaya, pihaknya hanya belum memiliki matras untuk lompat tinggi.