Tuesday, 25/7/2017 | 6:52 UTC+0

Chandra Ekajaya – Hebohnya Bom Sarinah 2016

Chandra Ekajaya, Hebohnya Bom Sarinah yang menimbulkan pro dan kontra seputar Empati.Sebelum kita membahas seputar kejadian Bom Sarinah 2016 ada baiknya kita membuka kontesk Empati sedikit.

EMPATI

Apa itu Empati ? MenurutChandra EkajayaEmpati mirip perasaan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam. Contoh bila sahabat kita orangtuanya meninggal, kita sama-sama merasakan kehilangan.

Empati, adalah melakukan sesuatu kepada orang lain, dengan menggunakan cara berpikir dari orang lain tersebut, yang menurut orang lain itu menyenangkan, yang menurut orang lain itu benar. Jadi, apa yang menurut Anda suatu kebaikan, bisa saja sebenarnya malah mengganggu orang lain.

Chandra Ekajaya mengutip ucapan Ubaydillah (2005) empati adalah kemampuan kita dalam menyelami perasaan orang lain tanpa harus tenggelam di dalamnya. Empati adalah kemampuan kita dalam mendengarkan perasaan orang lain tanpa harus larut.

Empati adalah kemampuan kita dalam meresponi keinginan orang lain yang tak terucap. Kemampuan ini dipandang sebagai kunci menaikkan intensitas dan kedalaman hubungan kita dengan orang lain (connecting with). Selain itu Empati merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam melakukan hubungan antar pribadi dengan coba memahami suatu permasalahan dari sudut pandang atau perasaan lawan bicara. Melalui empati, individu akan mampu mengembangkan pemahaman yang mendalam mengenai suatu permasalahan. Memahami orang lain akan mendorong antar individu saling berbagi. Empati merupakan kunci pengembangan leadership dalam diri individu.

Sekarang kita kembali ke kasus Bom Sarinah 2016…

Kemarin 14 Januari 2016 terjadi serangan teroris di daerah Sarinah,Thamrin, Jakarta Pusat. Korban tewas 7 orang, dengan 5 pelaku teroris tewas serta 1 WNI dan 1 WNA. Turut berduka kepada keluarga dan sanak saudara korban yang tewas akibat serangan teroris.

Saat kejadian banyak sekali update informasi yang disampaikan oleh orang – orang yang berada disekitar lokasi ke media sosial. Disini pro kontra terjadi karena ada yang mengaitkan sebagai pengalihan isu. Perlu di catat saat kejadian teror di Sarinah Jakarta Pusat kemarin ada beberapa rentetan kejadian di Indonesia yang cukup krusial pula untuk diikuti.

  1. Tertangkapnya anggota DPR berinisial DWP dari partai PDI-P
  2. Hari terakhir penawaran Divestasi Freeport kepada pemerintah
  3. Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi saksi untuk kasus Jero Wacik

Pengalihan isu yang berlebihan ? tentu saja tidak karena ada korban teror yang tewas. Tetapi bisa saja karena kejadian teror Bom Sarinah untuk ukuran teror hasilnya sangat jelek. Karena pelaku teror tewas lebih banyak daripada korban selain pelaku teror.

Tetapi disini Chandra Ekajaya tidak mau membahas pengalihan isu tersebut. Yang akan dibahas adalah seputar Empatinya. Harus diketahui juga bahwa kematian dan tragedi setiap saat terjadi dikehidupan kita, baik disadari ataupun tidak. Apakah para pembaca sekalian mengetahui kasus Mirna ? atau Akseyna ?

Tidak mengetahui karena kasusnya tidak viral di media sosial atau tidak diberitakan ekslusif oleh seluruh televisi ? Atau karena meninggalnya tidak elegan ? Yang 1 meninggal karena habis minum kopi, yang 1 bunuh diri di danau kampus tempatnya menimba ilmu ?

Apa alasan kalian tidak mengetahuinya ? apapun itu, empati kalian apabila musiman hanya karena ada tragedi yang disiarkan seluruh media online dan seluruh media televisi…empati kalian hanya setengah matang. Perlu dicatat bahwa kasus Mirna baru – baru terjadi tidak lama sebelum tragedi Bom Sarinah. Sebagai bahan refrensi untuk kasus Mirna dan Akseyna ;

  • Kematian Mirna diduga oleh racun sianida ( refrensi http://tekno.tempo.co/read/news/2016/01/11/061734997/sianida-di-kopi-mirna-racun-ajaib-tak-berbau-tak-berwarna )
  • Kemtian Akseyna terindikasi dibunuh bukan bunuh diri refrensi http://metro.tempo.co/read/news/2015/06/27/064678829/akseyna-ui-dibunuh-kemajuan-perkara-dan-motif-asmara
Chandra EKajaya - Alm Mirna

Chandra EKajaya – Alm Mirna

Sekarang kembali ke urusan Empati ( heheheh jangan cape bacanya ya )

Chandra Ekajaya - Foto Ekslusif Tempo

Chandra Ekajaya – Foto Ekslusif Tempo

Apakah salah ada beberapa orang fokus atau bahkan out of the box, baik itu yang ngawur menggunakan alasan pengalihan isu ataupun ingin fokus ke poin lain yang dimana menurut orang tersebut lebih penting ?

Empati, adalah melakukan sesuatu kepada orang lain, dengan menggunakan cara berpikir dari orang lain tersebut, yang menurut orang lain itu menyenangkan, yang menurut orang lain itu benar. Jadi, apa yang menurut Anda suatu kebaikan, bisa saja sebenarnya malah mengganggu orang lain.

Kalau ada orang yang tidak senang dengan empati musiman apakah mereka salah ?

Kalau ada orang yang tidak ingin larut berlebihan dengan empati orang apakah mereka salah ?

Terlebih empati yang ditunjukan orang lain tersebut bukan berposisi sebagai korban, atau keluarga korban, tetapi penikmat tragediyang dimana sering memaksakan untuk larut ikut dalam empati mereka.

Akhir kata, kejadian tanggal 14 Januari 2016 kemarin adalah kejadian yang ekslusif yang dimana diliput nyaris seluruh media online dan media televisi yang dimana kemungkinan saya Chandra Ekajaya untuk menjadi korban dalam kejadian tersebut kecil kemungkinannya. Tetapi sangat besar kemungkinan saya tewas apabila diracun sianida dalam kopi ataupun teh saya, apalagi saya dibunuh karena kasus asmara. Kematian Mirna dan Akseyna bisa menimpa anda setiap saat, tetapi kematian karena teroris itu bukan kemungkinan setiap saat, terkecuali anda tinggal di negara yang rawan perang dan kericuhan.

 

Mohon maaf apabila tulisan opini ini membuat beberapa pihak tersinggung. Tidak ada maksud tertentu apapun.

 

Terima Kasih

 

Chandra Ekajaya